Selasa, 14 Februari 2012

Budaya Organisasi Pesantren [2]


Oleh: Musatatok

A.   Pendahuluan
        Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus (pasal 15). Kemudian dalam pasal 30 (ayat 4) dijelaskan bahwa pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, samanera, dan bentuk lain yang sejenis. Dengan adanya ketentuan ini, maka secara formal pesantren adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang berhak mendapatkan perhatian yang serius sebagaimana sub sistem pendidikan nasional yang lain.
Kendatipun secara resmi pesanten di Indonesia baru masuk dalam sistem pendidikan nasional tahun 2003, namun peranan pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter bangsa Indonesia sudah dimulai sejak bedirinya pesantren itu sendiri.

       Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang di-kembangkan secara indigenous oleh masyarakat Indonesia. Karena sebenarnya pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia yang sadar sepenuhnya akan pentingnya arti sebuah pendidikan bagi orang pribumi yang tumbuh secara natural. Terlepas dari mana tradisi dan sistem tersebut diadopsi, tidak akan mempengaruhi pola yang unik (khas) dan telah mengakar serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.[1]
Karel A. Steenbrink mengutip pendapat Amir Hamzah bahwa secara terminology dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India.[2] Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. Setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari istilah Arabm melainkan dari India. Demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, surau di Minangkabau dan rangkang di Aceh bukanlah istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.[3]
Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal kata “pesantren”, Prof. John berpendapat bahwa kata pesantren berasal dari terma “santri” yang diderivasi dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sementara itu C.C. Berg berpendapat bahwa kata santri berasal dari bahasa India “shastri” yang berarti orang yang memiliki pengetahuan tentang buku-buku suci (kitab suci). Berbeda dengan keduanya, Robson berpendapat bahwa kata santri berasal dari bahasa Tamil “sattiri” yang berarti orang yang tinggal di sebuah rumah gubuk atau bangunan keagamaan secara umum.[4]
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai asal muasal pesantren, perlu digaris bawahi bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang masih tetap konsisten sampai sekarang dalam memegang nilai-nilai, budaya, serta keyakinan agama yang kuat. Bahkan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang diakui kemandirian dan independensinya. Bahkan Malik Fadjar membanggakan kemandirian pesantren dengan mengatakan bahwa kalau ditinjau dari kemandirian, pesantren lebih unggul ketimbang perguruan tinggi yang terkesan “wah” tapi malah justru menjadi lembaga pendidikan yang paling bertanggung jawab terhadap membludaknya pengangguran.[5]
Namun, dalam era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya kompetisi dari semua negara untuk saling bersaing guna memperebutkan kedudukan sebagai negara penentu dalam bidang perekonomian, sosial budaya, maupun politik. Tidak ketinggalan dalam hal ini dituntut kemampuan untuk mengembangkan sumber daya manusia agar lebih baik. Hal ini dikarenakan kemajuan teknologi, perdagangan dan sebagainya ditentukan oleh sumber daya manusia sebagai pelaku dan penggerak semua itu. Dan dalam lingkup yang lebih kecil, hal ini juga mau tidak mau pesantren dituntut untuk mampu  mengembangkan sumber daya manusianya yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi pesantren yang memiliki keunikannya masing-masing guna menjawab tantangan di era globalisasi ini.





B.   Pembahasan
Dunia pesantren merupan fenomena yang sangat menarik untuk diteliti. Lembaga yang dikatakan ‘Tradisional’ ini memiliki nilai-nilai pendidikan yang tinggi yang tidak banyak disadari dan diperhatikan oleh dunia pendidikan formal pada umumnya. Keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh komunikasi formal antara pendidikan dan anak didik, akan tetapi komunikasi informal dan komunikasi non formal justru merupakan faktor penting penentu keberhasilan pendidikan. Dalam pesantren bangunan komunikasi terjadi secara formal, non formal dan informal. Selama dua puluh empat jam komunikasi dan interaksi terbangun di antara warga pesantren, baik antara kiai-santri, santri-santri, santri-keluarga kiai dan santri-masyarakat pesantren. Dalam interaksi tersebut, nilai-nilai pendidikan yang dibentuk oleh pesantren mempunyai andil besar dalam menentukan keberhasilan belajar santri. Hubungan santri-kiai-keluarga kiai-sesama santri terbentuk secara sosialogis, ideologios dan informal. Berbeda dengan komuniasi ‘modern’, pola komunikasi dan interaksi lebih didasarkan kepada kepentingan dan formalitas. Kehampaan komunikasi ‘modern’ antara lain karena hanya didasarkan pada bentuk komunikasi formal, sedangkan komunikasi informal dan non formal yang lebih humanis kurang mendapatkan perhatian yang memadai.[6]
menurutSoerjanto Poespowardojo Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. Sedangkan Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.[7]
Namun bila dikaitkan dengan kata organisasi maka para ahli mendifinisikannya arti budaya organisasi sebagai berikut :
Pertama, menurut Schein  dijelaskan bahwa budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi.
kedua, menurut Cushway dan Lodge dijelaskan juga bahwa budaya organisasi merupakan sistem nilai organisasi dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dancara para karyawan berperilaku. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya  organisasi dalam penelitian ini adalah sistem nilai organisasi yang dianut oleh anggota organisasi, yang kemudian mempengaruhi cara bekerja dan berperilaku dari para anggota organisasi.[8]  
1.     Perilaku Kiai dan santri dalam organisasi pesantren
Sebelum menguraikan bagaimana perilaku kiai dan santri dalam organisasi pesantren, maka perlu kiranya untuk mengetahui kedudukan (kepemimpinan ) kiai di pesantren. Kata "Kiai" berasal dari bahasa jawa kuno "kiya-kiya" yang artinya orang yang dihormati. Sedangkang dalam pemakaiannya dipergunakan untuk: pertama, benda atau hewan yang dikeramatkan, seperti kiai Plered (tombak), Kiai Rebo dan Kiai Wage (gajah di kebun binatang Gembira loka Yogyakarta), kedua orang tua pada umumnya, ketiga, orang yang memiliki keahlian dalam Agama Islam, yang mengajar santri di Pesantren. Sedangkan secara terminologis menurut Manfred Ziemnek pengertian kiai adalah "pendiri dan pemimpin sebuah pesantren sebagi muslim "terpelajar" telah membaktikan hidupnya "demi Allah" serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Namun pada umumnya di masyarakat kata "kiai" disejajarkan pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam.[9]
Dalam menelaah bagaimana budaya organisasi pesantren, maka hal tersebut tidak akan lepas dipengaruhi oleh pola kepemimpinan seorang kiai di pesantren itu sendiri yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi perilaku organisasi santri-santrinya. Keberhasilan kiai dalam melakukan pengelolaan pesantren, salah satunya karena kiai menjunjung tinggi nilai-nilai, budaya maupun keyakinan. Sikap otokrasi biasanya dilakukan oleh kiai saat beliau menjadi seorang pemimpin pesantren yang lebih menekankan pada nilai-nilai keagamaan[10], misalnya: Pembelajaran yang bersifat kiai-centered. Seorang kiai melihat para santrinya belum matang secara intelektual maupun emosionalnya, sehingga perlu dibimbing dalam belajar. Adapun metode pembelajaranya, biasa disebut dengan metode sorogan atau bandongan dimana kiai mempunyai kekuasan tinggi dalam mengajarkannya, bahkan “haram” bagi santri untuk membantahnya.
Pola kepemimpinan seperti ini memiliki titik kelemahan dan kelebihan. Titik kelemahannya, kiai merupakan figure sentral di dunia pesantren dan lebih dari itu merupakan faktor determinan terhadap suksesnya santri dalam mencari pengetahuan. Dalam ranah akademik pendidikan kepesantrenan, signifikasi peranan kiai dalam mengambil kebijakan juga menjadikan pembelajaran di pesantren yang biasanya non-stop, kurang teratur kurikulumnya, atau bahkan ada juga pesantren yang sama sekali tidak menerapkan sistem kurikulum. Bahan ajar menjadi hak prerogratif kiai. Kiai, dalam dunia pendidikan pesantren menjadi seorang otokrat.[11]
Sisi positif (kelebihan) dari lembaga pendidikan pesantren adalah walaupun dipimpin oleh seorang kiai secara otokratif, akan tetapi watak inklusifnya begitu mendalam. Kebersahabatannya dengan budaya lokal telah berhasil memperkokoh funda-mentasi kebangsaan. Maka tidak heran pesantren menjadi akulturasi kebudayaan antar daerah. Berkenaan dengan ini, tipe kepemimpinan pesantren memiliki watak pemersatu. Daulat P. Tampubolon (2001) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan pemersatu berarti mampu mempersatukan semua unsur dan potensi yang berbeda-beda sehingga menjadi kekuatan sinergis yang bermanfaat bagi semua pihak.[12]
Inilah mungkin letak keunikan dalam kepemimpinan (manajemen) di dunia pesantren. Di satu sisi seorang kiai sebagai public figure bagi santrinya yang harus diikuti, di sisi lain, seorang kiai mampu mengakomodir keberagaman budaya santrinya. Sebagaimana kata Mukti Ali di atas, berkembangnya iklim dan tradisi tolong-menolong dan suasana persaudaraan antara kiai dan santrinya.
Sikap kekeluargaan, keakraban, tolong-menolong biasanya dilakukan oleh kiai saat beliau menjadi seorang manajer pesantren yang lebih menekankan pada proses dan pengelolaan pesantren. Di sinilah letak manajemen kultur yang dilakukan oleh kiai untuk mengembangkan pesantren. Nilai-nilai seperti kekeluargaan, keakraban, tolong-menolong sangat efektif untuk manjalin ikatan emosional antara kiai dan santri untuk mencapai tujuan pesantren secara bersama.
2.     Perilaku kelompok  dalam organisasi pesantren
Bush mengatakan bahwa model-model kultural memandang bahwa keyakinan, nilai, dan ideologi ada pada jantung organisasi. Individu memiliki ide-ide tertentu dan preferensi nilai yang mempengaruhi bagaimana mereka bersikap dan bagaimana mereka memandang perilaku anggota-anggota lainnya. Norma-norma ini menjadi tradisi yang dikomunikasikan dalam kelompok dan diperkuat oleh simbol-simbol dan ritual.[13] Prof. Sodiq juga menekankan bahwa manajemen kultural adalah manajemen yang menggunakan nilai-nilai (keyakinan/kepercayaan) sebagai dasar pengembangan organisasi. Karena itulah, manajemen kultural di pesantren merupakan bentuk manajerial pesantren yang lebih menekankan pada pendekatan kultural yang dilakukan oleh seorang kiai/ustadz dalam mengelola dan mengembangakan pesantren sebagai basis keilmuan Islam di Nusantara.
Salah satu basis kultural pesantren adalah bentuk pendidikan pesantren yang bercorak tradisionalisme. Menurut Mochtar Buchori, pesantren merupakan bagian struktural internal pendidikan Islam di Indonesia yang diselenggarakan secara tradisional yang telah menjadikan Islam sebagai cara hidup. Sebagai bagian struktur internal pendidikan Islam Indonesia, pesantren mempunyai kekhasan, terutama dalam fungsinya sebagai institusi pendidikan, di samping sebagai lembaga dakwah, bimbingan kemasyarakatan, dan bahkan perjuangan. Mukti Ali mengindetifikasikan beberapa pola umum pendidikan Islam tradisional sebagai berikut:
1.     Adanya hubungan yang akrab antara kiai dan santri.
2.     Tradisi ketundukan dan kepatuhan seorang santri terhadap kiai.
3.     Pola hidup sederhana (zuhud).
4.     Kemandirian atau independensi.
5.     Berkembangnya iklim dan tradisi tolong-menolong dan suasana persaudaraan.
6.     Displin ketat.
7.     Berani menderita untuk mencapai tujuan.
8.     Kehidupan dengan tingkat religiusitas tinggi.[14]
Senada dengan Mukti Ali, Alamsyah Ratu Prawiranegara juga mengemukakan beberapa pola umum yang khas yang terdapat dalam pendidikan Islam tradisional sebagai berikut:
1.  Independen.
2.  Kepemimpinan Tunggal
3.  Kebersamaan dalam hidup yang merefleksikan kerukunan.
4.  Kegotong-royongan.
5.  Motivasi yang terarah dan pada umumnya mengarah pada peningkatan kehidupan beragama.[15]
Dari dua pendapat di atas, nampak sekali bahwa pola tradisionalisme merupakan basis kultur pesantren yang menjadikan keunikan tersendiri bagi pesantren. Kalau kita kaitkan dengan manajemen kultur, maka pola pendidikan tradisionalisme di pesantren merupakan basis nilai-nilai, keyakinan, dan budaya, yang dapat dijadikan dasar pengembangan manajemen kultur di pesantren. Misalnya: hubungan akrab antar kiai dan santri, ibarat hubungan antara ayah dan anak. Hubungan akrab ini bisa mendorong keterlibatan emosional kiai dan santri untuk mengembangkan pesantren bersama-sama, apalagi hal ini didukung oleh sikap ketundukkan dan kepatuhan seorang santri pada kiainya. Sikap inilah yang akan mendukung keberhasilan kepemimpinan seorang kiai di pesantren.
Sikap kekeluargaan, keakraban, tolong-menolong biasanya dilakukan oleh kiai saat beliau menjadi seorang manajer pesantren yang lebih menekankan pada proses dan pengelolaan pesantren. Di sinilah letak manajemen kultur yang dilakukan oleh kiai untuk mengembangkan pesantren. Nilai-nilai seperti kekeluargaan, keakraban, tolong-menolong sangat efektif untuk manjalin ikatan emosional antara kiai dan santri untuk mencapai tujuan pesantren secara bersama. (manajemen kultural).
3.     Persepsi dan Komunikasi Efektif Pesantren
Pada hakekatnya perilaku setiap manusia banyak ditentukan oleh hubungan interaksi dengan manusia yang lain, maka kebutuhan yang paling pokok dan sangat mendasar bagi setiap manusia adalah komunikasi. Istilah komunikasi itu sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu “communication” dan menurut wilbur Schramm bersumber pada istilah lain yaitu “communis[16] yang di dalam bahasa Indonesia berarti “sama”.
Dengan demikian komunikasi adalah suatu proses kegiatan yang terjadi bersama-sama. Melalui komunikasi akan didapatkan informasi, dan informasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia adalah yang menyangkut kepentingannya.
          Pada sebuah pondok pesantran, keefektifan komunikasi antara kiai dengn santri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan serta menerima lambang-lambang dari komunikator kepada komunikan, juga ditentukan oleh keadaan psikologis dari komunikator.
Pada dasarnya, komunikasi antara kiai dengan santri sama dengan komunikasi antara guru dengan muridnya. Guru membimbing, mengarahkan, mengajar dan mendidik murid-muridnya agar menjadi orang-orang yang  berguna, mandiri, dan mampu meneruskan tugas menyebarkan serta memantapkan Islam. Hanya saja, seorang kiai tidak hanya berperan sebagai guru belaka, melainkan juga sebagai sahabat dan orang tua mereka.[17]
          Sebagai guru, kiai memberikan pelajaran-pelajaran keislaman. Sebagai orang tua, kiai menjadi tumpuan dan harapan para santrinya. Dan sebagai sahabat, kiai menjadi tempat untuk menumpahkan segala persoalan hidup.
Huhungan antara kiai dan santri adalah sedemikian rupa sehingga anjuran-anjuran, pendapat dan apa saja yang diberikan kiai dianggap oleh santri sebagai sebuah pedoman dan amanat di dalam mempengaruhi kehidupan.
Setiap pesan yang disampaikan oleh kiai, akan mendapatkan respon dari para santri. Umumnya para santri akan menerima apa saja yang dikatakan kiai. Apabila sebuah isi muncul di masyarakat, sang kiai akan memberikan pendapatnya. Selanjutnya, pendapatnya itu akan dikomunikasikan kepada para santrinya. Para santri akan menerimanya sebagai sebuah fatwa yang harus diperhatikan baik-baik sekaligus dilaksanakan.[18]
Pada umumnya para santri akan mendukung pendapat kiainya. Maka, pada tahan selanjutnya, opini santri akan sama dengan pendapat kiainya. Nah ini bukan berarti para santri tidak memiliki pendirian. Selain masalah etika yang harus dijunjung tinggi. Di sisi lain, para santri menganggap kiainya memiliki kemampuan memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, sehingga dengan demikian kiai dianggap memiliki kharisma kedudukan yang tak terjangkau. Dan kepemimpinan yang kharismatik ini dapat dilihat dari aspek-aspek sebagai berikut :
1.     Didukung oleh tata nilai yang tak rasional, seperti :
Kecintaan (pemujaan) yang berlebih-lebihan, fanatisme keagamaan, kedudukan hirarkis yang diperoleh dari keturunan, kemampuan membuat agitasi kepada massa dengan demagogi (hasutan) dan sebagainya.
Walaupun pada umumnya nilai tak rasionil itu kemudian diberi bentuk sehingga tampak menjadi rasional, namaun pada dasarnya kepemimpinan kharismatik mengikuti pola kerja yang tak rasionil pula. Pemimpin kharismatik lalu menjadi tidak senang dengan tata organisasi yang terlalu mengikat, membuat perencanaan secara terperinci, apalagi tunduk kepada pengawasan orang lain.
2.     Memiliki kemampuan besar untuk menggerakkan massa, menggalang keeratan hubungan di antara mereka yang biasanya dengan menciptakan kesatuan ikatan untuk dihadapkan kepada lawan bersama, menanamkan kepercaan teguh akan kemampuan masyarakat mencapai impian gilang gemilang dan menumbuhkan rasa kecintaan kepada impian itu.
3.     Di balik itu, terdapat kekurangan-kekurangan yang mendasar, yang dapat mengakibatkan malapetaka bagi masyarakat yang dipimpinnya. Ketiadaan perhatian kepada kebutuhan esensiil di bidang ekonomi. Ketiadaan perhatian kepada “ soal-soal kecil” yang melandasi kelancaran hidup masyarakat, ketidak senangan kepada perencanaan “biasa” yang tidak muluk-muluuk dan melambung tinggi; dan terparah lagi : tidak mau menerima kritik.[19]
Dari kenyataan ini dapat dipahami mengapa komunikasi yang dilancarkan atau dilakukan kiai berjalan dengan efektif dan mengapa opini santri terbentuk setelah berkomunikasi dengan kiainya. Hal ini dikarenakan hunubgan dan komukasi yang dilakukan kiai membawa akibat antara lain : internalisasi (internalization), identifikasi (identification) dan ketundukan (compliance).[20]
a.     Internalisasi terjadi bila santri menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu sesuai dengan sistem nilai yang dianut oleh kiainya.  Santri menerima gagasan, pikiran atau anjuran kiai, karena gagasan, pikiran atau anjuran tersebut berguna untuk memecahkan masalah,  penting dalam menunjukkan arah atau dituntut oleh sistem nilai yang dianut santri. Internalisasi terjadi ketika santri menerima anjuran kiai atas dasar rasional. Contoh, santri menghentikan kebiasaan bohong atas saran kiai, karena santri ingin memelihara kejujuran.
b.     Identifikasi terjadi bila santri mengambil perilaku yang berasal dari kiai karena perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang mendifinisikan diri secara memuaskan. Hubungan yang mendifinisikan diri artinya memperjelas konsep diri. Dalam identifikasi, santri mendifinisikan peranannya sesuai dengan peranan kiai. Ia berusaha seperti atau benar-benar menjadi kiai. Dengan mengatakan apa yang kiai katakan, dengan mempercayai apa yang kiai percayai, santri mendifinisikan dirinya sesuai dengan kiai yang mempengaruhinya.
c.      Ketundukan terjadi bila santri menerima pengaruh kiai karena ia berharap memperoleh reaksi yang menyenangkan dari kiai tersebut. Santri ingin memperoleh ganjaran dari kiai yang mempengaruhinya.

4.     Motivasi organisasi pesantren
Istilah motivasi dapat didifinisikan sebagai keadaan internal individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan, dinamika, dan mengarahkan tingkah laku pada tujuan. Dalam pengertian lain, motivasi merupakan istilah yang digunakan untuk sejumlah dorongan, keinginan, kebutuhan dan kekuatan. Karenanya, ketika kita mengatakan bahwa para pemimpin sedang membangkitkan motivasi staf/anggotannya, berarti mereka sedang melakukan sesuatu untuk memberikan kepuasan pada motif anggotanya. Dari situlah mereka harus melakukan sesuatu yang menjadi tujuan dan keinginan pemimpinnya. Motif sendiri adalah ungkapan dari kebutuhan individu, yang merupakan kepribadian.
Atas dasar itulah, dapat dipahami bahwa motivasi mengandung rangsangan suatu pihak (eksternal) kepada individu, sehingga ia melakukan suatu yang menjadi tujuan pihak lain (pemimpin eksternal), tetapi pada gilairannya juga dapat memenuhi keinginan-keingginan dari kebutuhan-kebutuhan individu itu sendiri.
Islam telah memberikan gambaran jelas tentang motivasi yang harusnya dikembangkan dalam kehidupan sosial umatnya[21]. Secara garis besar adalah sebagai berikut :
1.     Motivasi kepemilikan
Satu ayat al-Quran yang membicarakan masalah ini, antara lain :
إعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر فى اللأموال والأولاد كمثل غيث أعجب الكفار نباته ثم يهيج فتريه مصفرا ثم يكون حطاما وفى الأخرة عذاب شديد و مغفرة من الله ورضوان, وما الحياة الدينا إلا متاع الغرور (الحديد: 20)

20. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(al-Hadid)
2.     Motivasi berkompetisi
Berkompetisi (berlomba-lomba) merupakan dorongan psikologis yang diperoleh dengan mempelajari lingkungan dan kultur yang tumbuh di dalamnya. Manusia biasa berkompetisi dalam ekonomi, keilmuan, kebudayaan, sosial, dan lain sebagainya. Al-Quran menganjurkan manusia agar berkompetisi dalam ketaqwaan, amal sholeh, berpegang pada nilai-nilai, dan prinsip-prinsip kemanusian. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب وميمنا عليه, فاحكم بينهم بما انزل الله ولاتتبع أهواءهم عما جاءك من الحق, لكل جعلنا منكم شرعة و منهاجا ولو شاء الله لجعلكم أمة واحدة ولكن ليبلوكم فى ماءاتيتم فاستبقواااخيرات, إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون (المائدة : 48)
48. dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (al-Maidah)

3.     Motivasi kerja
Dalam al-Quran dijelaskan :
وءاية لهم الأرض الميتة أحيينها و أخرجنا منها حيا فمنه يأكلون,(33) وخعلنا فيها جنت من نخيل و أعنب وفجرنا فيها من العيون (34) ليأكلوا من ثمره وما عملته أيديهم أفلا يشكرون (35)
33. dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.
34. dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
35. supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?
Dari ayat di atas ada dua hal yang perlu diperhatikan : pertama, hendaklah menusia bekerja atas kepentingan berproduksi. Kedua, melengkapi diri dengan berbagai keterampilan agar mempu mengolah alam dengan segala potensinya. Ini berarti, dalam berproduksi tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. (Listafariska Putra, 2005).
Ali, Mukti. 1987. Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini. (Jakarta: Rajawali press).
Rahmat Jalaluddin,  Metode Penelitian Komunikasi, (Rosdakarya : Bandung, 1998), hal : 256.
Amir Hamzah Wirjosukarto. 1968. Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diselenggarakan oleh Pergerakan Muhammadiyah, SIngosari-Malang.
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup,(LP3ES, 1982).
Effendi, Onong Uchyana, Ilmu Komunikasi, (Remaja Rosda Karya : Bandung, 1986)
Haedari, Amin. dkk.. Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kmplesitas Global. (Jakarta: IRD Press. 2004)
http://citraedukasi.wordpress.com)
Karel A. Steenbrink.. Pesantren, Madrasah, Sekolah. (Jakarta: LP3ES., 1974)
Moch. Eksan, Kiai Kelana:Biografi Kiai Muchid Muzadi, (Yogyakarta: LKIS, 2000).
A. Halim dkk, Manajemen Pesantren, (Pustaka Pesantren : Yogyakarta, 2005) Cet. I.
Syarif Mustofa, Administrasi Pesantren (PT. Karya Berkah, Jakarta, 1979)
Wahid Abdurrahman, Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, (Pustaka Hidayah, 1997).



[1] Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. (Listafariska Putra, 2005), hal. 5
[2] Karel A. Steenbrink.. Pesantren, Madrasah, Sekolah. (Jakarta: LP3ES., 1974) hal. 20 atau Amir Hamzah Wirjosukarto. 1968. Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diselenggarakan oleh Pergerakan Muhammadiyah, SIngosari-Malang., hal. 40
[3] Karel A. Steenbrink. 1974. Pesantren..., hal. 20-21
[4] Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin. 2005. Manajemen…, hal. 5
[5] Ibud., hal. 74
[6] (Sumber:http://citraedukasi.wordpress.com)
[7] http://organisasi.org
[8] http://citraedukasi.wordpress.com/2008
[9] ( Moch. Eksan, Kiai Kelana:Biografi Kiai Muchid Muzadi, (Yogyakarta: LKIS, 2000)
[10] Sebagaimana Tony Bush dan Merianne Coleman mengatakan bahwa kepemimpinan diidentikan dengan visi dan nilai-nilai, sedangkan manajemen diidentikan dengan proses dan struktur. Bush & Marianne Coleman. 2006. Manajemen Strategis…,hal. 63
[11] Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin. 2005. Manajemen…, hal. 73
[12] Ibid., hal. 74
[13] Ibid., hal. 134
[14] Haedari, dkk. 2004. Masa Depan Pesantren…,hal. 14-15 atau lihat Mukti Ali. 1987. Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini. Jakarta: Rajawali press., hal. 5
[15] Ibid., hal. 15
[16] Effendi, Onong Uchyana, Ilmu Komunikasi, (Remaja Rosda Karya : Bandung, 1986), hal : 9
[17] Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup,(LP3ES, 1982), hal : 244
[18] Wahid Abdurrahman, Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, (Pustaka Hidayah, 1997), hal : 125.
[19] Syarif Mustofa, Administrasi Pesantren (PT. Karya Berkah, Jakarta, 1979), hal : 8.
[20] Rahmat Jalaluddin,  Metode Penelitian Komunikasi, (Rosdakarya : Bandung, 1998), hal : 256.
[21] A. Halim dkk, Manajemen Pesantren, (Pustaka Pesantren : Yogyakarta, 2005) Cet. I. Hal : 47-48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar